Pada waktu itu saya lagi duduk menunggu sesuatu, tiba-tiba pandangan saya secara tak sengaja melihat seekor cicak yang lagi merayap di dinding dekat tepi plafon. Rupanya cicak itu lagi mengincar seekor nyamuk yang lagi terbang berputar-putar disekitar tembok itu. Cicak itu dengan tatapan yang sangat lapar hanya bisa menyaksikan bagaimana nyamuk yang diincarnya tersebut terbang kesana-kemari, tanpa mampu berbuat apa-apa, selain tetap menempel dengan sabar di dinding tersebut. Mungkin dalam hati cicak tersebut berkata, seandainya aku punya sayap dan bisa terbang, tentu akan kukejar habis-habisan nyamuk tersebut. Dalam hati saya pun diam-diam membatin “dasar cicak bodoh, mana mungkin kamu bisa memakan nyamuk yang terbang kesana kemari tersebut, cari makanan lain sajalah yang bisa kamu raih”.
Namun, belum selesai gumaman batin saya tersebut saya ucapkan dalam hati, seperti dikendalikan oleh kekuatan yang tak terlihat, si nyamuk tiba-tiba terbang dan hinggap tak jauh dari moncong si cicak, dan, ya, dengan suatu gerakan yang cepat, hop ! cicak itu pun mencaplok si nyamuk dan kemudian dengan lahap menikmati hasil buruannya tersebut. Saya yang menyaksikan adegan tersebut, hanya bisa diam dengan mulut ternganga, tanpa bisa mengucapkan apa-apa.
Lepas dari keterpanaan menyaksikan adegan tersebut, saya perlahan-lahan menarik nafas dan mengucapkan astagfirullah. Ya, saya mohon ampun kepada Allah atas kebodohan saya dalam menilai peristiwa itu. Tanpa sadar saya masuk dalam tipu daya syetan yang paling halus, saya tanpa sadar meyakini, bahwa kemampuan seekor cicak memperoleh makanan sepenuhnya tergantung pada kemampuan cicak itu sendiri, sehingga cicak yang tidak bisa terbang saya pastikan tidak akan dapat memakan nyamuk yang bisa terbang kesana-kemari. Saya sadar, sesungguhnya makanan semua makhluk, termasuk makanan manusia, pada hakikatnya adalah rejeki dari Tuhan, dan Tuhan berkuasa mutlak mengatur dan memberikan rejeki kepada siapa pun yang dikehendakinya, bahkan dengan cara yang kita pun tidak mampu membayangkannya.
Diam-diam saya pun melakukan “flashback” atas perjalanan kehidupan saya selama ini, termasuk kehidupan orang tua dan beberapa keluarga dekat saya. Subhanallah, Maha suci Allah, ternyata semua rejeki yang telah kami dapatkan selama ini, yang kelihatannya kami peroleh “atas usaha kami sendiri”, sungguh semua merupakan anugerah dan karunia Allah semata-mata.
Sebagai contoh, saya memang mengirimkan
Ketika akhirnya saya diterima kerja, siapa sesungguhnya yang membuat semua hambatan itu tidak terjadi, padahal saya tidak mengerahkan usaha apapun untuk mencegah hambatan-hambatan itu agar tidak terjadi ?
Kekuatan yang mencegah dan menghilangkan semua hambatan yang bisa menggagalkan lamaran kerja saya, adalah sama dengan kekuatan yang “memaksa” nyamuk untuk hinggap dihadapan seekor cicak yang tak bisa terbang, kekuatan yang sama yang membuat seekor ikan dilaut memakan umpan pancing nelayan, kekuatan yang sama yang membuat seekor sapi tidak mengamuk dan tetap menunggu untuk disembelih, walau menyaksikan sapi-sapi lain disembelih didepan matanya, kekuatan yang sama yang menurunkan hujan dari langit yang membuat tanaman petani tumbuh subur, kekuatan yang sama yang mendorong seorang ibu menyusinya bayinya dengan penuh kasih sayang walau tidak ada jaminan anaknya tersebut akan berbakti kepadanya ketika si ibu sudah tua renta. Itulah kekuatan dan kekuasaan Allah sang pengatur dan pemberi rejeki.
Jadi, kalau anda pernah dan selalu berpikir segala yang anda peroleh dan miliki dalam hidup ini (harta, kekayaan dan kekuasaan) semata-mata adalah hasil usaha dan upaya anda sendiri,dan menjadi sombong dan angkuh karenanya, mungkin seekor cicak di dinding bisa menyadarkan Anda kembali. Semoga.
Leave a Reply